BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, Oktober 10, 2009

Tiga Ketukan Palu Kehidupan

Belakangan ini saya banyak merenung tentang kehidupan.

Tapi jangan bayangkan saya merenung di tepi danau dengan pandangan kosong menerawang mega, atau di kelas saat kuliah kewarganegaraan. Bukan, bukan seperti itu. Diantara banyak pose dalam merenung, dua pose itu yang paling saya hindari. Pertama, karena memang nggak ada danau di sekitar tempat tinggal saya. Kedua, saya kok merasa nggak enak banget ya kalau harus menghabiskan kelas kewarganegaraan dengan merenung? Disamping kasihan sama dosen yang ngajar Kewarganegaraan (jadi inget kebiasaan SMA. Di kelas saya dulu, yang namanya guru PKn, atau Kewarganegaraan, atau yang semacam itu, hampir selalu dicuekin saat ngajar), saya pikir juga masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan di kelas selain merenung. Hmm… nyanyi-nyanyi tanpa rasa bersalah saat bapaknya berkoar-koar tentang pentingnya menjadi warga negara yang baik nggak termasuk, tentunya.

Saya merenung sambil naik motor saat berangkat kuliah. You know, itu aktivitas kegemaran saya selama bertahun-tahun ini. Lumayan buat ngisi kekosongan saat hampir terkantuk-kantuk ngebut menempuh jarak 20 kilometer dari rumah saya di desa sampe kampus. Merenung tentang kehidupan di atas motor yang saya pacu dengan kecepatan 70 km/jam menurut saya lebih asyik ketimbang mendengarkan mp3 yang malah nambah-nambahin pusing karena kalau mp3 nya nggak distel dengan volume paling gede atau nggak full stereo, bakalan kalah sama bising knalpot motor di depan-belakang-kanan-kiri (Jogja makin penuh motor. What the FUN?!). Dan merenung di atas motor masih lebih mending daripada kebiasaan salah seorang temen jaman SMA saya yang tiap hari juga menempuh perjalanan kira-kira sama dengan perjalanan saya, yang dengan ringan ngobrolin kebiasannya di jalan, “Aku biasanya tidur sambil nyetang motor.” Tapi terlepas dari hal itu, saya memang tipe orang yang suka mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu yang sama (ini yang saya sebut efektifitas dan efisiensi waktu)—lagipula teman saya pernah bilang bahwa salah satu kelebihan saya adalah mengerjakan beberapa pekerjaan bersamaan :) (walaupun sekarang semakin terbukti bahwa itu tidak sepenuhnya benar, hanya pada hal-hal tertentu yang menjadi hobi saya saja).

Ceritanya, kemarin pagi saat berangkat sekolah, secara tidak sengaja saya melihat sebuah kecelakaan motor dalam jarak beberapa meter di depan saya. Saya nggak lihat secara langsung, yang saya lihat saat itu pengendara motor yang seorang bapak-bapak lumayan berumur sudah tergeletak di tepi jalan, darah menggenang di sekitar kepalanya. Banyak. Merah. Gelap. Sementara itu, seorang ibu-ibu berkerudung yang kayaknya membonceng bapak tadi menangis meraung-raung di samping tubuh bapak itu. Seketika orang-orang berbondong-bondong datang untuk menolong. Wah. Pemandangannya nggak enak banget waktu itu. Rasa kaget, cemas, takut, mau muntah karena di pagi buta seperti itu, belum sempat merasa lapar sudah dipaksa nambah ‘sarapan’ darah segar. Saya sempat berhenti sebentar, tapi kemudian segera melanjutkan perjalanan ketika rasa mual saya semakin menjadi. Saya nggak tahan mendapati apa yang saya lihat.

Mulai dari situ, saya mulai merenung. Tentang betapa absurdnya peristiwa yang akan terjadi di hidup kita. Satu menit ke depan, dua menit ke depan, lima jam ke depan, kita tidak tahu akan berada di mana, melakukan apa, dan dalam kondisi seperti apa. Yang kita tahu adalah kita tidak berhenti berharap, bahwa kehidupan masih terus akan mencumbu kita, membangunkan kita esok hari setiap kali kita memejamkan mata (kalau pada hari itu kita masih diberi waktu sampai malam). Tuhan begitu dermawan, tapi DIA sangat pelit membagikan misteri-Nya tentang masa yang akan datang pada kita. Kalaupun bapak-bapak yang kecelakaan tadi tahu lima menit setelah dia meninggalkan rumah sebuah motor ugal-ugalan akan menyerempetnya di jalan raya, tentu dia tidak akan ngebut dan tidak lupa mengenakan helm di kepalanya yang botak. Tapi siapa tahu dia akan berkesempatan bersalto ria lalu tiduran gratis tanpa pengganggu di aspal yang masih berembun?

Waktu yang kita butuhkan sebelum berjumpa dengan masa depan sangat singkat. Bagi saya, waktu yang tersisa saat itu tersekat-sekat menjadi 3 bagian utama. Biarkan imajinasi saya berkembang liar, dan oleh karenanya saya akan menganalogkannya sebagai 3 pukulan palu yang saya sebut pukulan palu kehidupan. Pukulan palu pertama, ketika Anda berencana mengambil sebuah keputusan. Ini sulit. Yang berperan bukan saja intuisi, tapi akal sehat. Meskipun sebagian orang menganut paham orang sukses adalah orang yang banyak bertindak, bukan berpikir. Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Hanya saja tingkat ke-ekstrem-an dalam perwujudan pernyataan itu yang banyak berperan. Orang yang terlalu fanatik menganut paham seperti itu, kebanyakan tidak butuh waktu lama dalam memutuskan sesuatu. Dalam bahasa sederhana, kita menyebutnya gegabah. Padahal, tidak jarang juga gegabah menjadi faktor X paling besar yang menyebabkan kesuksesan seseorang lari terbirit-birit setelah ketakutan dengan nafsu seseorang yang sangat besar ingin segera menjumpainya (kok saya jadi ngelantur).

Pukulan palu kedua, ketika Anda harus memutuskan untuk menentukan pilihan. Ini bagian paling sulit. Butuh ketegasan untuk bisa mengeliminasi sekian banyak pilihan menggiurkan yang sebenarnya tidak cocok dengan diri Anda walaupun tampak sangat ‘wah’ diantara pilihan-pilihan lain. Dan untuk menemukan ketegasan itu, Anda butuh cinta (ini ajaran Mario Teguh) yang akan andai pakai sebagai landasan anda. Banyak orang yang gagal melanjutkan masa depan setelah melewati masa ini. Setelah menentukan pilihan yang sebenarnya tidak dilandasinya dengan ketegasan. Sebuah pilihan yang plin-plan. Saya memilih ini, tapi sebenarnya saya pengen itu… lalu tidak bisa merealisasikan apa yang sebelumnya merupakan kerangka rencana dalam pilihan itu secara maksimal. Oleh karena itu, dalam pandangan saya, di sini ketegasan sangat dibutuhkan. Ketegasan yang dalam artian lebih luas bisa diartikan sebagai kemantapan hati yang didasari kecintaan terhadap pilihan yang melahirkan keputusan.

Pukulan palu ketiga, ketika akhirnya anda tersenyum menyandarkan bahu anda yang letih pada kursi santai sambil memandang-mandangi hasil pemikiran Anda, hasil keputusan yang Anda pilih. Inilah manifetasi keputusan Anda, tentunya keputusan yang diambil dengan ketegasan yang berdasar kecintaan. Inilah titik akhir perjalanan Anda dalam menyongsong dan menemukan tiga ketukan palu kehidupan yang pertama. Seterusnya, Anda akan menjumpai ketukan-ketukan serupa di kesempatan lain kehidupan Anda.

Saya (dan pastinya juga Anda) tidak ingin ketika umur saya 50 tahun nanti, saya baru menyadari saya kurang mengetukkan palu-palu di masa muda saya. Paling tidak, mulai sekarang saya berusaha menata hidup saya agar ketukan-ketukan itu menjadi ketukan-ketukan yang berirama, sehingga rencana kehidupan saya lebih terarah, lebih terorganisir waktunya. Untung-untung ketukan itu bisa jadi irama teratur yang membentuk alunan lagu Indonesia Raya kita yang sudah lama terlupakan generasi muda. :)

Kamis, Oktober 08, 2009

Mari Hijabkan Fisik, Mari Hijabkan Hati

Fenomena yang terjadi di sekeliling saya belakangan ini menggelitik pikiran saya. Semakin banyaknya wanita muslimah yang beraktivitas di tempat terbuka dengan pakaian minim, pergaulan wanita muslimah yang kerap kali melibatkan percampuran antara wanita dan lelaki sehingga tidak tampak perbedaan wanita muslim dan wanita kafir, atau bahkan wanita berjilbab yang hanya 'menutup kepala' saja, karena masih saja melanggar batasan-batasan hijab yang sesungguhnya. Bukan karena saya muslimah berjilbab yang telah berhasil menghijabkan fisik dan hati saya, saya juga masih belajar berjilbab. Istilahnya, saya ini muallaf berjilbab. Saya sendiri juga masih kurang di sana-sini. Saya hanya ingin menggali lebih dalam, mengorek informasi, memperkaya pemikiran saya dengan mencari tahu apa kiranya penyebab fenomena seperti ini, dan kemudian bersama-sama menemukan solusi pemecahannya yang paling tepat.

Sudah merupakan kodrat wanita, bahwa wanita diciptakan berbeda dengan lelaki. Meskipun pada dasarnya tujuan penciptaan lelaki dan wanita adalah sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT, namun ada beberapa batasan yang membuat wanita dan lelaki secara alamiah juga berlainan. Yang paling mudah kita amati, misalnya dari segi fisik. Wanita diciptakan Allah penuh dengan keindahan, termasuk keindahan tubuhnya, yang tentu saja berbeda dengan lelaki. Nah, karunia Allah berupa keindahan itu, bukankah suatu anugerah yang tiada duanya? Ketika kita 'menobatkan' sesuatu sebagai sebuah anugerah terindah, bukankah kita semestinya menjaganya dengan sebaik-baiknya? Simpelnya, bayangkan begini saja. Di hari ulang tahun, kita mendapat kado handphone baru dari Ayah-Ibu. Kita sangat senang, meskipun kita tahu bahwa adik, atau kakak kita, juga sangat menginginkan hape baru. Karena kita tahu bahwa adik atau kakak kita menginginkan benda yang sama, kita akan berusaha mati-matian menyembunyikan, menjaga benda itu agar tidak dilihat kakak atau adik, karena bisa saja kakak atau adik kita mengambilnya. (wah, parah juga nih kakak adik). Intinya begitu. Anugerah terindah kita dari Allah adalah bahwa kita, wanita, terlahir dengan bermacam keindahan yang ada pada tubuh kita. Sudah semestinya kita menjaga baik-baik anugerah terindah itu, sebelum orang lain yang tidak berhak 'mencurinya' dari kita.

Rasululloh SAW bersabda: "Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian." (HR. Muslim)


Nah lo. Dari hadist di atas saja, kebayang kan, gimana mengerikannya kehidupan neraka yang disebabkan karena kita tidak bisa berpakaian yang menutup aurat? Yang lebih parah, banyak diantaranya yang 'berpakaian tapi telanjang'. Nah lo. Sudah merasa berpakaian, tapi masih masuk neraka. Apa sebabnya? Sebabnya adalah karena mereka sudah berpakaian menutup aurat, namun melupakan esensi-esensi yang sebenarnya dari berpakaian. Yuk, kita cari tahu dulu batasan-batasan yang benar tentang aurat wanita, dan bagaimana cara menutupnya yang benar!

1. Al-Quran surat Annur(24):31

"Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya."

Maksud dari ayat ini adalah menegaskan mengenai 4 hal :

a. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLAH SWT.

b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.

c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak.

Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata "kecuali yang biasa nampak" dalam ayat tersebut. Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Begitu pula menurut Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Ibnu Mas'ud RA. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Said bin Jubair RA. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.

d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.

Nah, sekarang mari kita perhatikan fenomena yang terjadi di sekitar kita. Yang tidak menggunakan jilbab sih, sudah barang tentu tidak menutup aurat. Tapi yang lebih menarik, ketika ada trend jilbab gaul : jilbab yang tidak menjuntai menutupi dada, berbahan sangat tipis sehingga transparan (masih terlihat bagian dalamnya), dan pakaian yang ketat bahkan superketat. Lalu dimana esensi hijabnya?
Tujuan berjilbab adalah untuk menutupi, bukan pamer keindahan. Meskipun dengan berjilbab, sesungguhnya akan menambah keindahan kita sebagai wanita, namun keindahan yang disyariatkan. Ketika kita sudah nawaitu lillahita'ala berjilbab, sudah semestinya kita mengenakan jilbab sesuai syariah. Tidak asal-asalan saja menutup kepala. Karena jika kita berjilbab tapi di sana-sini masih kelihatan; lekuk dada, pinggang, bahkan pusar atau bagian punggung, apa gunanya kita berjilbab? Untuk menarik perhatian orang lain karena menganggap kita sebagai wanita muslimah yang alim? Naudzubillah...

Oleh karena itu, marilah, kita mulai dari sekarang, untuk menghijabkan fisik kita dengan cara yang benar. Buang semua jilbab dan baju mini yang sepantasnya dipakai oleh adik kita di taman kanak-kanak.

Satu lagi yang tidak kalah pentingnya, adalah menghijabkan hati. Seringkali kita jumpai di sekeliling kita, wanita berjilbab tapi cara berbicara dan tingkah lakunya tidak mencerminkan seorang wanita berjilbab. Tertawa dengan suara terlampau keras yang tidak ditahan, bercampur dengan lelaki yang bukan mahramnya sampai melanggar batasan-batasan tertentu, dll. Semua itu karena komitmen kita untuk menghijabkan fisik, belum disertai dengan komitmen untuk menghijabkan hati. Telah disebutkan diatas bahwa kita juga diperintahkan untuk menjaga pandangan, terutama mengenai lawan jenis. Nah lo, kalau pandang-pandangan saja sudah dianggap keluar dari jalur, bagaimana dengan bersentuhan, berpelukan, atau berciuman dengan yang bukan mahramnya? Naudzubillah...

Saudari-saudariku, islam mencintai keindahan. Namun, ada batasan tertentu dalam mengungkapkan keindahan itu, yang tujuannya tidak lain adalah untuk melindungi keindahan itu sendiri agar tidak rusak, hilang atau pudar. Bukankah kita, sebagai wanita yang penuh keindahan, juga tidak mau keindahan kita rusak, pudar, atau bahkan dirampas oleh orang yang tidak berhak untuk kita bagi keindahan kita?
Maka dari itu, ayo, mulai sekarang, cobalah untuk mulai menghijabkan fisik dan hati. Insya Allah akan menjadi muslimah kaffah calon penghuni surga.
Amin, ya rabbal 'alamin.



(disarikan dari berbagai sumber)

Selasa, Oktober 06, 2009

FRATERNITE : friendship in dentistry!


FRATERNITE .






Terimakasih atas diadakannya acara ini. Fraternite benar-benar kegiatan pertama di FKG yang membuat saya betah dan excited .



benar-benar makrab yang benar-benar mengakrabkan. yang tadinya kenal luarnya aja jadi kenal luar dalem. yang jaim jadi menggila bersama. dari pendiam jadi hobi ngakak. hahaha.
such a beautiful moment.
pengen ngulangin lagi rasanya, tapi gak tahan dinginnya Wonogondang.
pengen tracking di kalikuning bareng-bareng sambil foto-foto, tanpa terhambat oleh cuaca.
pengen outbond bareng GLABELA (teman-teman GLABELA, kita harus menuntut keadilan atas pemecahbelahan kelompok kita menjadi 9, hahaha).
pengen ngerumpi dengan disisipi kata-kata 'aduh, pengen ee' atau 'aku kentut, lho!' atau bahkan 'duh, aku udah pup di celana!' --> yang terakhir sebenarnya tidak pernah terjadi di dunia nyata, sih,. haha.

pokoknya, makrab 2009 nge-feel. momen pertama yang begitu. semoga yang berikutnya juga.

Senin, September 14, 2009

tentang sebuah cerita

kolaborasi?
kedengarannya ide yang bagus. XD

Minggu, September 13, 2009

mencoba blak-blakan

Saya punya sedikit cerita tentang hari kemarin.
Membuat saya sedikit ber-instrospeksi diri, mengevaluasi apa-apa yang selama ini salah pada diri saya.

Oke, cerita berawal dari warnet.
Habis ikutan Seminar Kesehatan Islami di fakultas kedokteran UGM, berhubung nggak punya kerjaan sampai waktu buka, saya iseng-iseng hotspotan di salah satu warnet di dekat rumah saya yang menyediakan layanan hotspot. Singkat cerita, saya chatting sama salah satu tetangga saya, sebut saja Ian, yang kemudian ngojok-ojoki (waduh, bahasanya) saya untuk ikutan buka bareng sama anak-anak remaja masjid. Wah, padahal, kemarin ketika saya menerima sms undangan dari salah satu panitia, saya sudah bertekad untuk nggak menghadiri acara itu. Alasannya : saya parno bahwa saya pasti jadi kambing congek di acara itu. Boleh dibilang, saya tidak terlalu akrab dengan remaja-remaja seumuran saya di komunitas itu, srawung ya cuma sekedarnya saja, dan lagi, saya orangnya canggung. Tapi berhubung di facebook tiba-tiba ketemu Ian yang notabene, bisa dibilang orangnya lumayan supel dan tidak canggung untuk mengajak saya ngobrol (tidak seperti yang lain-lain) mengajak saya untuk berangkat buber bareng, yowislah, menghadiri undangan kan lebih baik daripada tidak. Undangan adalah salah satu tanda bahwa kita, sebagai insan sosial, masih 'diorangkan' oleh masyarakat. Betul?
Alasan kedua, setidaknya dengan adanya Ian, saya nggak akan jadi kambing yang congek2 banget, hehe, setidaknya masih ada yang bisa diajak ngobrol konyol.

Jadi, karena kebetulan saya sama Ian ngenet di warnet yang lumayan deket, kami memutuskan untuk berangkat bareng.

Bubernya nggak cuma remaja. Ada anak-anak juga, lebih banyak malah. Secara remaja masjid di desa saya jumlahnya sudah semakin menyusut tiap tahun karena ada yang nikah, urbanisasi, merantau, dsb. Untuk nunggu waktu berbuka tiba, diadakanlah game yang mengharuskan anak-anak kecil ngasih 'kritikan' buat mbak-mbak dan mas-mas nya di situ yang udah gede. Tiap anak disuruh nulis kejelekan mbak-mbak dan mas-mas yang waktu itu berdiri di depan, kayak tersangka kasus penipuan di pengadilan.

Lihat apa yang saya dapat :

Friendika : jutek, senyume larang (mahal), pendiam.

Standing applause untuk yang menuliskannya.
Karena membuat saya jadi merenung semalaman.
Memangnya saya sejutek itu ya?
Semahal itukah senyum saya?
Padahal saya sudah mencoba untuk ramah pada semua orang lho. Asli.
Oke, pada saat-saat tertentu, ketika saya jadi kambing congek karena tidak ada satu orang pun yang bisa saya ajak ngobrol ataupun mengajak saya ngobrol, saya memang cenderung diam. Memangnya mau bagaimana lagi? Ketika saya nggak tau samasekali apa yang mau diomongkan, bukankah akan lebih baik kalau saya diam? Tapi rupanya kediaman saya diartikan lain oleh orang-orang di sekitar saya, ya. Mereka pikir saya diam karena malas ngobrol dengan mereka. Mungkin dianggap sombong juga. Jutek. Padahal, demi Allah, saya diam karena saya imbisil berbicara. Saya akui, saya sungguh idiot menyusun kata-kata untuk dirangkai jadi topik pembicaraan dengan orang yang tidak terlalu akrab dengan saya.

Jadi, apakah ini sebuah salah paham?
Semoga saja iya. Karena saya tidak pernah punya niat untuk menjadi jutek ataupun sombong.